Penaku serpihan kaca
Tinta darah
Meski kerap mengiris jariku
Namun inilah inspirasiku
Yang membuat tragis puisiku
Serasa menyayat kalbu
Suatu saat nanti
Pabila tinta habis mengering
Kan ku lumuri dengan airmataku
Agar pena bisa menari lagi diatas kanvas
Dan mengukir aksara-aksara lara
Namun...
Pabila pena hilang tercuri
Kan ku nanti ia kembali
Meski terlalu lama ia pergi
Meski ia tak kan hiasi jariku lagi
Aku kan senantiasa berharap
Memeanjatkan do'a-do'a munajat
Hingga tiada lagi aku bernafas
Kelak..
Esok atau lusa...
Saat jariku tak berkulit lagi
Saat jariku hanya tersisa tulang belulang
Sebelumnya...
Telah ku tuliskan bait terakhir di kanvas terbelakang
Yang tak bertintakan darah dan airmata
Daging dan uratlah sebagai gantinya
Meski sangat sukar aku cairkan
Bukan sebuah puiisi tanpa deskripsi
Bukan pula ilustrasi dalam fiksi
Bukan jua coretan cerita narasi
Namun inilah sebuah inspirasi
YAng tak mampu aku Sangsi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar