expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 26 Oktober 2011

JERITAN HATI YANG TERTUNDA

Harus ku langkahkan kakiku kemana
Busaran bagian mana
Aku ingin sembunyi dari mereka
Aku tak kuat menahan lisan mereka
Selalu melontarkan namanya di muka ini
Seraut wajah riang
Yang sesungguhnya menutupi kemurungan

Aku lelah, aku lelah sudah
Aku rapuh, terlalu lumpuh
Ada apa dibalik ini semua

Tuhaaaaaannnn...
Tak mampu ku menghadapi ini
Meski ku coba sekuat terumbu besi
Tiada sanggup aku dusta
Setelah tinggal aku sendiri
Bola mataku meluapkan airmata

Entah esok atau lusa
Sampai diujung mana
Detik pun berairmata

Tanyaku;
Ada apa dengan waktu?
Mengapa lamban berlalu?
Dan tragedi apa denganku?
Kenapa tiada terhabiskan airmataku?

Bukan inginku menghindar
Aku jua takut musuh
Satu hal yang tak tentu
Kapan keberanian itu datang
Tuk aku ucap sejujurnya
Agar mereka mengerti
Agar mereka tak mengakini jiwa ini
Bahwa aku dan engkau tak terikat lagi
Telah terpisahkan hasrat keegoisan

Dari janji aku tepati
Setia menanti

Dari janji kau dustai,
ingkari
Bahkan kau luahi

Bukankah dulu...
Waktu itu...
Saat lidah itu naik turun
Engkau berkata;
"Aku tak kan mendua,
Apa lagi tergoda
Aku kan setia
Karna kaulah segalanya"

Tapi...
Apa ini...
Dapat apa aku ini...
Aku tak dapat apa-apa
Kebahagiaan yang kau iming-imingi
Kau robohkan sesuka hati

Ya ini aku sekarang
Menderita atas ingkar
Terpuruk tiada kedudukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar